Proyek 'Kecebong' Jokowi Mangkrak Usai Peletakan Batu Pertama, Utang Juragan China Tak Cair


Republikin.com ~ Dilansir dari detik.com, Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung dinilai sebagai proyek Kecebong (Kereta Cepat Bohongan) oleh politikus Partai Demokrat, Roy Suryo. Roy menganggap proyek tersebut hanya dijalankan demi kepentingan pengembang sehingga dianggap tak sepenuhnya demi kebutuhan masyarakat.

Mega proyek yang kini masuk dalam daftar proyek strategis nasional (PSN) ini memang tak terdengar kemajuannya setelah dilakukan peletakan batu pertamanya oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara langsung di Desa Mandalasari, Bandung Barat. Berulang kali proyek ini dirapatkan, mulai dari tingkat Menteri hingga Rapat Terbatas di Istana, namun perkembangannya kerap tak menunjukkan kemajuan yang berarti.

Kendala pendanaan ditenggarai menjadi hambatan dalam mega proyek yang kini biaya investasinya sebesar US$ 5,9 miliar ini atau sekitar Rp 78,6 triliun. Pencairan dana pinjaman dari pemerintah China yang difasilitasi melalui China Development Bank (CDB) tak kunjung terealiasi.

Berulang kali jawaban realisasi pencairan dana tersebut dikatakan akan terjadi dalam waktu dekat, namun berulang kali pula pertanyaan yang sama dilontarkan setiap bulannya oleh wartawan terkait hal ini.

Proyek ini sendiri dikerjakan oleh High Speed Railway Contractor Consortium, gabungan 7 kontraktor yang mengerjakan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung sepanjang 142,3 kilometer bersama PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) sebagai pengembang proyek.

Mayoritas pembiayaan proyek akan didanai lewat pinjaman dari CDB, sementara empat BUMN Indonesia dilibatkan dalam pembebasan lahan proyek. Keempat BUMN itu tergabung dalam konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) yang terdiri dari PT WIKA, PT Kereta Api Indonesia, PT Perkebunan Nusantara VIII, dan PT Jasa Marga.

Namun hingga kini perhitungan biayanya yang membengkak, penetapan trase hingga proses pembebasan lahan yang tak kunjung usai membuat dana pinjaman dari CDB tak juga cair dan membuat proyek ini kian tak jelas dan molor.

Dua tahun berselang sejak groundbreaking, Jokowi kembali mengungkapkan kekesalannya soal proyek kereta cepat Jakarta-Bandung yang tak juga terlihat pembangunannya.

"Kita mau membangun kereta api cepat jarak hanya 148 kilometer (km) saja sampai sekarang belum mulai, ributnya sudah 2 tahun. Debat, ramai, baik atau enggak baik. Sama seperti waktu kita bangun MRT ramainya itu 26 tahun. Sudah direncanakan 26 tahun, ramainya," kata Jokowi kala itu.

Jokowi menegaskan, disiplin dalam bekerja perlu ditingkatkan lagi, bahkan menjadikan ketertinggalan pembangunan di Indonesia oleh negara-negara tetangga sebagai modal mengejar ketertinggalan tersebut.

"Mereka sudah berbicara masa depan dan jangkauan visi sangat panjang, sudah berbicara mengenai mobil Tesla, mobil fantasi masa depan. Kita masih terjebak pada urusan debat. Saling menyalahkan saling menjelekkan, saling menghujat," ungkapnya.

Menteri BUMN Rini Soemarno sendiri, pada awal bulan Oktober lalu menyatakan, pembangunan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung masih terus berlangsung. Proses pembebasan lahan dan penentuan lokasi yang membutuhkan waktu lama membuat proses konstruksi diperkirakan baru bisa dijalankan secara total pada bulan depan. Dana pinjaman tahap pertama dari CDB sebesar US$ 500 juta hingga 1 miliar pun diperkirakan cair pada bulan ini.

"Pinjaman baru bulan depan akan ditarik. Kami sudah selesaikan semua (persyaratan) dengan CDB," ucap Rini.
ADA BERITA UNIK DAN MENARIK SCROLL KE BAWAH www.REPUBLIKIN.com
Sumber Berita : detik.com