Kisah Pilu Eks Gadis Alexis, Lari Dari Perbudakan

ilustrasi Aksi seorang wanita muda yang nekat memanjat apartemen

Republikin.com ~ Dilansir dari kumparan.com, Dengan diiming-imingi cash bon Rp 5 juta, MD, wanita asal Sukabumi yang menjadi korban perdagangan orang, rela pergi ke Jakarta. Juli 2010, MD diterima menjadi therapist spa Hotel Alexis Jakarta.

Awalnya, orang tua MD tidak mengizinkan putrinya untuk berangkat ke Jakarta. Namun, lantaran MD sudah terlanjur dijanjikan cash bon, MD meyakinkan orang tuanya, bahwa dia akan baik-baik saja.

Kesaksian MD di Pengadilan Negeri Sukabumi, tertuang dalam putusan Mahkamah Agung di laman resminya pada 18 Agustus 2011.

Dua terdakwa dalam putusan itu, Hendrik Gozali dan Aditia Chandra bin Nurbaman, dinyatakan bersalah dan terbukti membantu memperdagangkan orang.

MD mengaku menjadi salah satu korban mereka. Di kasus ini, Majelis Hakim yang terdiri dari Ketua Majelis Hakim Maryono, dan Salman Alfarasi serta Dony Dortmund sebagai hakim anggota memvonis Hendrik dengan 7 tahun bui, sementara Aditia, divonis 4 tahun 3 bulan bui.

Putusan itu juga memuat kisah MD, yang dipekerjakan di Alexis --dan bagaimana ia berusaha kabur dari tempat itu.

Berlokasi di pinggir jalan kawasan Jakarta, MD dan korban lainnya berinisial N, bertemu dengan Hendrik. Mereka berdua langsung dibawa ke mess milik pria bernama Heri.

"Bahwa selanjutnya saksi diperkenalkan oleh saksi Hendrik kepada saudara Heri sebagai agen yang menerima pekerja wanita di Hotel Alexis di Jakarta dan saudara Heri bertanya mau cash bon berapa dan di jawab oleh saksi (orang tua N), untuk saksi MD Rp 5 juta dan untuk saksi N Rp 10 juta," demikian isi putusan tersebut.

MD bercerita, ia harus melayani para tamunya di Alexis, dalam sebuah ruangan tertutup dengan kaca tembus pandang. Sinar lampu remang-remang turut melengkapi penderitaan MD.

"Di sana saya duduk bersama-sama dengan perempuan-perempuan lainnya dengan menggunakan pakaian yang seksi-seksi," kata MD, seperti tertuang dalam putusan tersebut.

Selama tiga hari bekerja di Alexis, MD menerima 4 orang tamu. Dua dari mereka memaksa MD untuk berhubungan intim.

"Bahwa saksi (MD) ketika tamu mengajak berhubungan intim telah berusaha menolak akan tetapi tamu tersebut mengatakan dia sudah dibayar dan saksi tidak bisa berbuat banyak karena bekerja di situ," tulis putusan tersebut.

MD beralasan, aturan itu sudah masuk dalam cara kerja Alexis. Jika mereka sudah dipilih oleh para tamu --termasuk sudah berbincang-bincang--, maka mereka semua harus melayani seluruh keinginan para tamunya, termasuk berhubungan badan.

MD bersama N, lantas memilih untuk kabur dari tempat itu. MD memilih pulang ke Sukabumi.

"Bahwa oleh karena saksi tidak tahan akhirnya saksi kabur ke Sukabumi bersama-sama N. Bahwa oleh karena saksi kabur maka disusul oleh saudara Dudu, orang suruhan saudara Hendrik untuk mengajak saksi kembali," tulis kutipan MA.

Mendapat ancaman, MD yang dirundung rasa ketakutan akhirnya menuruti perintah Dudu untuk kembali bekerja di Alexis. Namun, hal tersebut hanya berlangsung selama 2 hari. MD kembali kabur dari Alexis.

Namun lagi-lagi, kali ini, Hendrik 'menjemput paksa' MD, dan mengancam MD dengan utang yang masih ia miliki lantaran MD memilih kabur.

"Bahwa setelah itu saksi Hendrik datang ke rumah saksi mengatakan bahwa oleh karena saksi kabur maka saksi kena cas Rp 3.000.000, - dan membayar hutang sisa sebesar Rp 5.000.000, - tersebut oleh karena takut dan tidak punya uang maka saksi kembali ke Jakarta bersama Hendrik dan pacarnya," tulis kutipan MA.

Oleh karena perbuatan MD yang sudah 2 kali kabur dari Alexis, Hendrik memindahkan MD untuk dipekerjakan ke hotel lain di kawasan Jakarta. Di sana, MD dikenalkan dengan Eko, agen pekerja hotel tersebut. Cara kerjanya pun sama, MD harus kembali melayani tamu.

Namun, MD lebih memilih pulang ke Sukabumi. Ia membohongi pihak hotel dengan alasan ada kerabatnya di Sukabumi yang meninggal dunia.

ADA BERITA UNIK DAN MENARIK SCROLL KE BAWAH www.REPUBLIKIN.com
Sumber Berita : kumparan.com