Ketika Jenderal Tahu Siapa Pemasok Senjata OPM & Kenapa Peluru OPM Tak Pernah Habis

Dilarang share foto artikel tanpa menyertakan link berita ini

Republikin.com ~ “Saya tahu di mana OPM (Organisasi Papua Merdeka) berada, dukungan persenjataannya pun saya tahu. Kalau saya mau, sekali tumpas selesai,” ucap Mayjen TNI Christian Zebua, Pandam XVII Cendwasih, 19 September 2014 seperti dikutip oleh kantor berita Antara.

Pernyataan itu sangat mengejutkan kita. Warga yang tidak suka berpikir sekalipun pasti bertanya-tanya: ada apa dengan  pernyataan yang sangat ambigu itu? Kalau tahu pemasok pesenjataan, mengapa sang jenderal tidak memburu otak di balik semua penembakan di Papua itu? Mengapa tidak sekali tumpas saja kelompok yang mengancam kenyamanan warga negara itu?

Amunisi Peluru Tak Pernah Habis

Kita tidak mau mengada-adakan jawaban atas pertanyaan di atas. Kita hanya perlu mengingat pernyataan Lukas Enembe, Gubenur Papua, yang sama mengejutkan publik Indonesia mengenai sumber persenjataan OPM. Pernyataan Enembe disampaikan usai pertemuan dengan Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso, terkait kondisi maraknya penembakan di Papua.

Menurut Enembe, maraknya penembakan di Papua bagian dari ulah aparat yang datang ke Papua dengan menjual amunisi ke masyarakat lokal.  

“Kapolri dan Panglima tertibkan itu amunisi, karena amunsinya dijual oleh anggota kita sendiri,” tegas Lukas seperti diberitakan Okezone, Kamis (6/2/2014).

Enembe mencurigai  persediaan peluru kelompok bersenjata yang tidak pernah habis saat baku tembak dengan aparat. Ia  juga membantah bila ada pembelian senjata ilegal di Papua, karena keamanan di sana sangat ketat.  

“Sulit membawa senjata atau amunisi ilegal dari luar Papua, kecuali membeli dari aparat yang bertugas,” katanya.

Media massa  pun pernah mencatat pernyataan anggota Komisi I DPR Yorrys Raweyai. Ia menilai ada kejanggalan yang terjadi saat para aparat yang datang dari luar Papua. Mereka datang membawa begitu banyak amunisi, namun setelah pulang amunisi dinyatakan habis. Karena itu, politikus Partai Golkar ini meyakini kelompok bersenjata di Papua mendapat amunisi justru dari aparat keamanan sendiri.

“Dari mana amunisi bisa masuk ke sana? Ada indikasi pasukan di-BKO-kan datang bawa peluru, pulang tak bawah apa-apa. Jadi ada istilah, datang bawa M16 pulang bawa Rp16 M,” kata Yorrys seperti diberitakan Okezone, (6/2/2014)

Menurut dia, amunisi dijual oleh para aparat keamanan dengan harga Rp1.500 per butir. Dia juga yakin hal ini terjadi karena selongsong yang ditemukan dalam penyisiran tempat kontak senjata itu berasal dari PT Pindad kerap digunakan aparat keamanan.

“Amunisi terbatas, kenapa kontak senjata dari tahun ke tahun amunisi tidak pernah habis temuan selongsong buatan Pindad, dari mana itu barang?” tandasnya.

Konflik Papua ladang Uang Bagi Oknum?

Pernyataan-pernyataan yang mengejutkan itu semua terungkap dalam tahun 2014 yang lalu dari mulut pejabat negara sendiri. Penjabat negara yang mengendalikan roda pemerintah nasional di daerah. Paling tidak mereka mengetahui apa yang mereka katakan. Mereka pasti bertangungjawab atas pernyataan mereka.

Apakah konflik Papua menjadi lahan subur bagi oknum tertentu? Hingga saat ini pertanyaan tersebut masih misteri.
ADA BERITA UNIK DAN MENARIK SCROLL KE BAWAH www.REPUBLIKIN.com
Sumber Berita : republikin.com., antaranews.com, Okezone.com