Terungkap, Kata 'Pribumi' di Pidato Anies, Ini Maksud Sebenarnya, Jangan 'Baperan'

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kiri) bersama Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno (kanan) memberikan sambutan saat serah terima jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta di Balai Agung, Balai Kota Jakarta, Senin (16/10/2017). Anies-Sandi resmi menjabat sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022.

Republikin.com ~ Anies Baswedan - Sandiaga Uno secara resmi menjabat sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Kemenangan Anies Baswedan bagi mayoritas warga Jakarta yang memenangkannya tentu membawa harapan yang besar.

Namun baru saja dilantik, dunia maya kembali dihebohkan dengan isi pidato Anies Baswedan. Ini dikarenakan ada kata pribumi yang diucapkan oleh Anies.

Tentu saja hal ini kembali membuat heboh karena banyak yang tidak terima jika harus dibeda-bedakan antara pribumi dan non pribumi.

Ternyata banyak netizen hanya mendengar sepotong-sepotong saja pidato Anies Baswedan tersebut. Padahal jika dilihat konteksnya, yang dimaksud adalah warga pribumi saat era kolonialisme Belanda.

Mari kita kupas tuntas satu persatu kalimat di paragraph tersebut. Biar tidak baperan.

Kalimat: Jakarta juga memiliki makna pentingnya dalam kehidupan berbangsa. Di kota ini, tekad satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa persatuan ditegakkan oleh para pemuda. Di kota ini pula bendera pusaka dikibartinggikan, tekad menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat diproklamirkan ke seluruh dunia.

Konteks: Jakarta sejak jaman era Belanda memang terkenal dengan kemajemukannya. Banyak etnis yang tinggal di jakarta, mulai dari etnis China sampai Arab. Kalimat di atas mengakui kemajemukan tersebut sebagai satu kesatuan warga Jakarta.

Kalimat: Jakarta adalah satu dari sedikit tempat di Indonesia yang merasakan hadirnya penjajah dalam kehidupan sehari-hari selama berabad-abad lamanya.

Konteks: Setelah mengakui kemajemukan Jakarta (ada etnis China, Arab, dll), kalimat selanjutnya menekankan bahwa Jakarta termasuk salah satu kota yang merasakan pahitnya penjajahan Belanda selama berabad-abad.

Kalimat: Rakyat pribumi ditindas dan dikalahkan oleh kolonialisme. Kini telah merdeka, saatnya kita jadi tuan rumah di negeri sendiri.

Konteks: Ingat Kalimat ini menyambung dengan phrasa sebelumnya, yaitu terkait penjajahan Belanda di Jakarta yang berpenduduk majemuk (baca lagi di atas).

Penggunaan kata rakyat pribumi tentu untuk menggambarkan jauhnya perbedaan antara mereka (Penjajah Belanda) dengan Kita (rakyat pribumi). Mereka (Belanda) tentu tidak bisa disebut pribumi. Dan karena saat itu Indonesia belum ada, penggunaan kata Rakyat Indonesia akan menjadi tidak tepat makna. Maka digunakan kata rakyat pribumi.

Itu kenapa kata pribumi hanya muncul 1 kali diantara 5 halaman pidato Anies. Selanjutnya Anies menggunakan kata Warga (diulang sebanyak 13 kali), dan kata rakyat (diulang sebanyak 10 kali).

Karena tujuan penggunaan kata tersebut untuk menekankan perjalanan pribumi Jakarta (tentu saat itu sudah multi etnis) menghadapi Kolonialisme Belanda.

Tapi anehnya banyak pihak yang teriak Saya Pancasila, Saya Indonesia, justru belingsatan mendengar kata pribumi. Apakah mereka bukan Indonesia? Apakah tidak tahu sejak dahulu Indonesia / Jakarta sudah multi etnis (Arab, China, dll)?

Dan kenapa kata pribumi hanya disebut 1x, sisanya menggunakan kata "Warga" dan "Rakyat", kenapa tidak semuanya menggunakan kata pribumi? Itulah yang harus dipikirkan kembali agar tak ada lagi "pribumi" yang baper.

Baca Rangkuman Berita Hari ini di sini :

Like Facebook Berita Muslim Cyber Army :

Join Channel Telegram Republikin :

Follow Twitter Berita Muslim Cyber Army :

ADA BERITA UNIK DAN MENARIK SCROLL KE BAWAH www.REPUBLIKIN.com
Sumber Berita : redaksi republikin.com