Ngeri, Reklamasi Akan Rubah Laut Jakarta Jadi Comberan Berwarna Hijau [Jurnal Ilmiah Jerman]

ilustrasi Algae Bloom

Republikin.com ~ Penolakan reklamasi teluk Jakarta semakin meluas. Selain kajian-kajian dari Akademisi dalam Negeri tentang dampak buruk reklamasi Teluk Jakarta, kajian juga datang dari luar Negeri salah satunya dari Jerman.

Baru-baru ini peneliti Jerman menerbitkan sebuah Jurnal Ilmiah (tahun 2016) tentang simulasi numerik limbah nitrogen yang dilepaskan oleh 13 sungai ke Teluk Jakarta, yang terakumulasi karena reklamasi dan Giant Sea Wall.

Jurnal peer-reviewed Internasional, dipublish oleh Elsevier. Ditulis oleh tim peneliti Jerman, Simon A.van der Wulp dan Karl Jürgen Hesse dari Pusat Penelitian dan Teknologi Pantai, Christian Albrechts University, Jerman serta tim dari Institut Geologi dan Geokimia Minyak dan Batubara, RWTH Aachen University, Jerman, Larissa Dsikowitzky dan Jan Schwarzbauer.

Berikut rangkuman bagian-bagian penting jurnal tersebut yang disadur dari http://dx.doi.org/10.1016/j.marpolbul.2016.05.048

HASIL PERHITUNGAN DAN SIMULASI (GAMBAR DI AKHIR ARTIKEL)

Dalam simulasi yang dipaparkan di jurnal tersebut ada 4 kondisi, yaitu (lihat gambar di bawah):
  1. tanpa reklamasi dan GSW (a)
  2. fase A, ketika pulau-pulau reklamasi dibangun (b)
  3. ketika Giant Sea Wall dibangun, dan reservoir barat ditutup (c)
  4. ketika reservoir timur ditutup (c)
Yang diukur adalah kandungan nitrogen, fosfor, dan DEET (N,N-diethyl-m- toluamide, a molecular tracer for municipal waste water).

Hasilnya? Lihat gambar di akhir artikel. Semakin merah warnanya, semakin besar kandungannya. Sangat Merah artinya sudah jauh di atas ambang batas.

Apa Akibatnya?

Makin banyak kandungan limbah di atas, maka akan muncul bencana "Algae Blooms" air jadi hijau, penuh algae, ikan mati, air menjadi berbau busuk, persis seperti comberan. Tapi ini comberan raksasa.

Itu terjadi kalau limbah dari sungai tidak diolah dengan baik sebelumnya. Namun, menurut paper tersebut, teknik pengolahan limbah paling canggih pun paling state of the art, hanya mampu mencapai 80% efisiensi.

Artinya? Limbah masih tetap lewat ke teluk, terakumulasi. Dan karena tidak bisa keluar dari GSW dengna kecepatan super besar, maka akan bertambah terus dan terus. Dan akan tetap meningkatkan kadar benda2 di atas.

Kalau sudah begitu, 170 triliun kontribusi buat DKI tidak ada artinya. Ongkos operasional, pembersihan, maintenance, belum termasuk kerugian ekosistem, nelayan, ekonomi, dll.. jauuuuh lebhi besar dari itu.

Kita mau ambil resiko ini? Siapa yang rugi? Siapa yang untung?

Gambar-gambar lebih lengkap silahkan akses di  http://dx.doi.org/10.1016/j.marpolbul.2016.05.048
ADA BERITA UNIK DAN MENARIK SCROLL KE BAWAH www.REPUBLIKIN.com
Sumber Berita : http://dx.doi.org/10.1016/j.marpolbul.2016.05.048 dan https://www.facebook.com/ismailfahmibdg