Ingat, Sumpah Pemuda Keturunan Arab 1934, Dipelopori Kakek Anies Baswedan

gambar isi Sumpah Pemuda Keturunan Arab 1934 ada di akhir artikel

Republikin.com ~ Dirangkum dari bbc.com, Sebelum Indonesia merdeka, persisnya pada 4 Oktober 1934 di Semarang, lima tahun setelah Sumpah Pemuda 1928, sejumlah kaum muda keturunan Arab mendukung gagasan tanah air Indonesia -dan tidak lagi mengaitkan dengan asal-usulnya yaitu Hadramaut, Yaman.

Dimotori pemuda idealis bernama Abdurrahman (AR) Baswedan (Kakek Anies Baswedan Gubernur DKI),  sebagian kaum peranakan Arab di Hindia Belanda saat itu telah sampai pada satu titik pencarian identitasnya, yaitu bersumpah bertanah air Indonesia.

Di saat itu pula, AR Baswedan mengumpulkan para peranakan Arab dan mendirikan Persatuan Arab Indonesia (PAI) yang mendukung kemerdekaan Indonesia.

Menurut pengamat masalah keturunan Arab di Indonesia, Hasan Bahanan, apa yang dilakukan AR Baswedan (yang saat itu berusia 27 tahun) dan kawan-kawan itu terinspirasi Sumpah Pemuda 1928.

"Sumpah Pemuda 1928 yang melintasi batas-batas etnik dan agama berpengaruh pada orientasi kebernegaraan komunitas Arab Hadrami di Hindia Belanda," kata Hasan kepada BBC Indonesia.

Dalam buku AR Baswedan, Membangun Bangsa, merajut Keindonesiaan (2014), "Sumpah Pemuda keturunan Arab" itu memiliki tiga butir pernyataan:

Pertama, Tanah air peranakan Arab adalah Indonesia; Kedua, peranakan Arab harus meninggalkan kehidupan menyendiri (mengisolasi diri); Ketiga, Peranakan Arab memenuhi kewajibannya terhadap tanah air dan bangsa Indonesia.

Langkah revolusioner

Pilihan AR Baswedan untuk "meleburkan" diri dalam cita-cita bersama bangsa Indonesia merupakan pilihan "revolusioner", kata Hasan.

Maklumlah, saat itu pemerintah kolonial Belanda menempatkan peranakan Arab, Cina, Jepang sebagai orang asing klas dua, di atas kaum pribumi.

"Dan, peranakan Arab saat itu -melalui isi sumpah pemuda 1934- "menurunkan" dirinya. Ini agak aneh untuk ukuran saat itu. Nah, Baswedan tidak melihat itu (warga klas dua) sebagai keistimewaan. Tapi dia mengatakan dengan menjadikan dia pribumi, maka persoalan keturunan Arab di Indonesia itu selesai," papar Hasan, yang juga staf pengajar di Jurusan Ilmu Komunikasi Fisip Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.

Dengan kata lain, lanjutnya, "Baswedan dan gerakannya sekaligus menafikan privilege perlakuan hukum (klas Timur Asing) yang diberikan oleh penguasa penjajah Belanda kepada etnik Arab."

Patut diketahui, status kelas Timur Asing yang dinikmati keturunan Arab itu, mengakibatkan mereka terpisah dari kaum pribumi.

"Mereka juga sebelumnya tidak pernah terlibat dalam gerakan kebangsaan, walaupun mereka terlibat dalam berbagai aktivitas pendidikan dan keagamaan," kata Hasan Bahanan dalam pengantar buku AR Baswedan, Revolusi batin sang perintis (2015).

Itulah sebabnya, menurutnya, pilihan kaum muda peranakan Arab idealis yang menyatakan Indonesia sebagai Tanah airnya, "menempatkan mereka sebagai bagian dari komunitas pejuang kebangsaan."

klik untuk memperbesar. Download dan sebarkan


ADA BERITA UNIK DAN MENARIK SCROLL KE BAWAH www.REPUBLIKIN.com
Sumber Berita : bbc.com